Tuesday, September 17, 2013

Salahkah Jika Mengharapkan Mu – Part II


Aku masih tetap memegang handphone ku, tubuhku lebih memilih untuk jatuh namun tidak dengan hatiku yang memilih untuk tetap tenang. Aku mencoba untuk melawan perasaan ku untuk tegar dan berfikir ini bukanlah masalah besar,namun sulit.
Aku meboca untuk terus malawan perasaan ku dan akhirnya pun aku bisa.aku mencoba untuk membalasnya.

 Tapi mengapa? Apakah salah seorang teman mengantar mu ,hanya sebagai salam perpisahan.
Apakah kau membenci ku? Apa yang membuat mu berpikr aku akan kerepotan?
Janji ku dengan rani,ya adalah untuk mengantar mu ke air port
Jika kau tidak suka aku datang,bilang sajalah ,tidak usah banyak alasan yang kau keluarkan untuk hal ini.

Secepatnya aku kirim pesan yang aku balas untuk mu. Aku hanya takut pikiran ku melahapku dan menghentikan niatku untuk mengirimnya. Lagi pula mungkin kata kata itulah yang ingin kau dengar dari ku, bukan?
Saat pesan yang aku tulis untuk mu telah terkirim,secepatnya aku mengubah mode handphone ku menjadi air plane mode. Aku hanya takut jika kau membalasnya dan kata-kata yang kau kirimkan pada ku akan membuat ku semakin tersiksa.


Pagi hari ..
Aku tetap mengurungkan niat ku untuk tidak menganti mode air plane pada handphone ku. Sebenarnya ada suara kecil yang ku dengar,suara hati yang memihak untuk tetap mengantarnya keair port. Saat itu entah dimanalah pikiran ku terletak,yang aku pikirkan aku hanya ingin melihat kau pergi ketempat yang jauh karena nantinya kau dan aku tidak akan bertemu kurang lebih hingga satu tahun. Namun salahkah jika aku mengharapkan mu untuk kembali dan nantinya kau akan menerima ku?
Yang aku bisa hanyalah melihat mu dari balik pagar bandara, melihat mu pergi sama saja melihat hatiku pergi ,entah kembali atau tidak sama sekali. Jantung ku remuk,dada ku sesak seakan rasanya aku tidak bisa bernapas, bahkan saat aku telah selesai melihat mu terbang dari kota yang pernah menjadi cerita kecil ku yang belum lengkap,aku tidak kuat untuk menyalakan dan mengendari motor yang aku pakai.
Namun aku bisa apa? Aku bahkan tidak dibolehkan untuk mengantar mu ke air port apa lagi untuk melarang mu pergi. Aku hanyalah teman mu yang memiliki perasaan lebih terhadapmu. Mungkin kau sudah menyadarinya namun kau lebih memilih untuk diam karena kau masih mencintainya, saat disana pula bukan kau akan lebih bisa bersamanya aku tidak punya harapan apa pun untuk bisa mendapatkan hatimu.
Aku hanyalah teman mu,aku hanyalah seseorang yang belum terlalu mengenalmu,aku hanyalah ,hanyalah,hanyalah ... nothing.

 Satu minggu setelah kepergiaan mu...
Aku selalu mengirim pesan untuk mu,aku bahkan tidak pernah lupa untuk menyuruh mu untuk selalu makan tepat waktu dan mengerjakan perintah yang ada pada keyakinan kita,ya aku tidak pernah lupa mengiatkan mu untuk solat.
Namun,dari berbatang sampai berdahan pesan yang aku kirim untuk mu kau hanya menjawabnya dengan kata singkat.jujur aku sakit,namun aku pahami semua hal itu,kau sibuk,kau sudah terlalu besar untuk dingatkan oleh orang lain,dan kau sudah terlalu muak untuk menerima pesan dari ku. Bahkan mungkin jika kau tega,kau akan menganti nomormu dengan nomor baru.
Kau selalu ada dalam pikiran ku, aku bahkan selalu bertanya-tanya dengan hati ku. Kau sedang apa?apakah kau sudah makan?apakah kau sudah solat?apakah kau sudah ....? begitu banyak yang ingin aku Tanya kan kepada mu,namun siapa aku? Bukankah aku tidak berhak untuk semua hal itu.
Kini pesan yang aku kirim untuk mu, sudah jarang kau balas,bahkan saat aku ingin mengirim pesan untuk mu sering kalinya pesan itu juga tertunda,biasanya pula kau menghiraukan pesan ku hanya untuk satu hari penuh,namun keesokan harinya kau menghilang dari kotak masuku. Aku juga merubah suara nada pesan dihanphone mu,berharap jika kau mengirim pesan untuk ku terlebih dahulu,namun aku hanya bisa menunggu,aku hanya bisa menghayal untuk mendapatkan hal itu.

Tiga bulan setelah kepergian mu...
Ya aku masih tetap menunggu,aku masih tetap mengirim pesan untukmu,kadang aku sudah terlalu muak untuk melihat handphone ku,aku terlalu muak untuk selalu menggigatkan seseorang yang tidak pernah menghiraukan aku.

Empat bulan setelah kepergian mu..
Hati ku dan pikiranku tidak pernah lupa untuk memikirkan mu,aku selalu saja marah pada diriku, kenapa aku bisa menyukaimu,kau teman ku,sebelum aku memberitahu mu akan perasaan ku,kita baik-baik saja.Mungkin jika dipikirkan lagi, ini semua salah ku aku yang terlalu ingin memiliki terlalu memaksa mu untuk bersama mu,namun salahkah jika aku mengaharapkan sedikit belas kahisan cinta mu untuk ku?.
Sampailah pada oktober saat dimana kau akan pulang dan bisa bersamaku, pikirku.

To be Continue



Tuesday, September 10, 2013

Salahkah Jika Aku mengharapkan Mu

pagi hari terasa berbeda saat aku lihat handphone ku terisi oleh satu pesan lagi dari mu .ku baca pesan singkat yang kau kirim untuk ku. Entah kenapa bukankah seharusnya aku senang , namun mengapa ada tetesan air mata yang tergenang dan tergantung dipipiku, aku juga merasa heran mengapa kau mengirimkan pesan singkat yang membuatku binggung, salah apa aku dengan mu ?

tanpa tersadar aku menghapus pesan singkat darimu untuk pertama kalinya. Aku menghapus pesan yang kau kirimkan pada ku , terasa sesak memang saat menghapus pesan singkat yang kau kirim untuk ku.Tetesan air yang tergantung memang masih tergerai, banyak sekali memang, namun segeranya aku hapus saat adik ku bertanya

"kau kenapa?"dengan nada pelan dan sedikit kasian
suara yang ia lontarkan sempat membuat ku terkejut dan menghentikan ku untuk menangis
"aku hanya lelah dan merasa begitu sangat mengantuk mungkin karena aku tidur terlalu malam" kata ku sambil mengeluarkan uapan yang begitu sangat aku buat-buat
"apa kau yakin? kau bukannya sedang menangis bukan?" nada khawatir yang dikeluarkan adik ku seakan sangat ingin membuatku jujur terhadapnya tapi aku hanya berkata semampu ku
"tidak, mengapa aku jadi menangis ? ini kan masih pagi dan aku baru saja bangun tidur ku" muka ku kupasang dengan tegar tanpa beban
"ya sudahlah jika itu alasan mu " muka resah dan khawatir pun hilang secepat saat dia tahu bahwa aku berhong kepadanya
"kau tidak sekolah ?" tanya ku agar aku bisa berbaikan lagi dengannya
"otakmu  memang bermasalah ya? kau tidak lihat aku sedang apa?" nada sedikit marah pun terlontardari mulutnya
"kan aku hanya bertanya apa salahnya sih?"  nada yang aku berikan untuk adik ku sedikit sedih berharap dia perduli terhadap ku ternyata bukan kata kata baik yang keluar melainkan kata masa bodo yang kelurar darinya
"sudah aku malas. Kau lanjutkanlah seterikaan ku ini .bukankah kau hari sabtu libur?" nada suaranya berubah menjadi nyoya seketika dan aku pun tidak bisa mengelak
"ya sudah tapi nanti saat kau pulang aku titip nasi padang ya?" nada manja ku keluar membunjuknya
"boleh tapi aku juga dibelikan ya?"  nada baik yang kuharapkan pun keluar dari tutur mulutnya
"enak saja kau kan punya uang yang lebih banyak dari pada aku!" nada jengkel ku pun keluar kalau masalah uang aku mana mau mengalah
"dasar pelit" lidahnya pun keluar untuk diberikannya pada ku
"memang !" sambil mengibaskan sebelah rambutku untuknya
 percakapan ku pun berakhir saat dia memilih pergi mandi dari pada harus bertengkar dengan ku

sore pun mulai datang aku pun mulai terfikir lagi tentang pesan singkat yang kau kirimkan pada ku

 aku tidak bisa memberi tahukannya pada mu
aku pun tidak akan bisa membalas pesan mu lagi seperti dulu
paling tidak sampai oktober
tapi jika kau ingin mengirimkan pesan 
tidak apa apa aku hanya akan lama membalasnya 
atau mungkin aku tidak akan bisa membalas pesan mu

pesan yang kau kirim tadi pagi aku jadikan bahan lamunan ku, hampir 2 jam berlalu aku menghabiskan waktu hanya untuk melamunkan pesan singkat mu, entahlah begitu banyak tanya yang ada diotak ku saat ini .

malam ini aku ingin sekali menelepon mu, ingin sekali membiarkan kau memanaskan kedua belah kuping ku,namun khayalan itu sangat mustahil untuk aku lakukan aku hanyalah teman mu yang tidak pernah kau lihat, bahwa sebenarnya aku memiliki serpihan rasa sayang untuk mu.

malam ini aku beranikan diriku untuk mengirim pesan untukmu duluan

"bagaimana,besok jadi?"beberapa saat setelah itu kau membalas pesan ku
"jadi,kenapa memang?"
"bolehkan aku mengantarmu ke air port?"
"aku sarankan jangan deh kayaknya"
"kenapa?"
"hanya unuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan"
"maksudnya? kamu takut bakal ada dinda?" rasanya aku akan jatuh saat mengirim pesan itu
"terserahmulah aku tidak bilang begitu !"
"kalau begitu apa alasanya"
hampir satu jam kau tidak membalas pesan ku aku pun berpikiran bahwa mungkin kau muak terhadap ku
saat aku meminatkan untuk merubah mode handphone ku menjadi air plane mode kau datang dengan segelintir pesan yang aku rasa apakah kau akan membiarkan ku untuk membolehkan ku mengantarkan mu ke air port.
namun bukan itu maksud pesan yang aku terima dari mu.
 
maaf tapi bisakah kau mengerti bahwa aku hanya ingin kau tidak datang 
aku juga takut untuk merepotkan mu
lagian bukanya besok kamu juga ada janji dengan rani
aku bukanya tidak membolehkan kau untuk datang 
tapi terserah pada mu lah aku tidak berhak bukan untuk melarang mu

nafas ku tersentak badan ku kaku menjadi seperti es yang sangat dingin ,bahkan aku pun sulit sekali untuk menelan air liur ku ,aku bertanya-tanya apakah ini KAMU ?? aku menyaandarkan diriku kesamping tembok kamar ku ,aku hanya bisa terdiam dan memegang erat handphone yang masih berada di kotak masuk dan masih berada pada pesan singkat mu yang kau kirim tadi .
aku pun segera ingin membalas pesan mu namun tangan ku bergetar dan sangat sulit untuk mengerakan jari jemari ku,Begitu sulit pula untuk menekan layar touch screen pada handphone ku . Aku pun berpikir apakah dia pantas mendapatkan balasan pesan dari ku ?

 
  to be continue..